Media Bhayangkara. Com

Catatan Redaksi

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita, anda dapat juga mengirimkan artikel atau berita sanggahan dan koreksi kepada redaksi kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11 dan 12) undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email Redaksi atau Hubungi No telpon tercantum di bok redaksi

Pembina

Pembina

Iklan Disini

Breaking News

Puasa Ilmu untuk Indonesia Emas 2045, Dr. Ali Mufthi ; Tekankan Ketulusan Santri sebagai Fondasi SDM Unggul Generasi Emas

 

JAMBESARI, BONDOWOSO, mediabhayangkara.com – Dalam rangka silaturahmi keagamaan dan pembinaan karakter, Dr. H. Ali Mufthi, S.Ag., M.Si., Anggota Komisi V DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, hadir di Pondok Pesantren Al Usmani, Kecamatan Jambesari, Kabupaten Bondowoso, pada hari ini. 

Acara yang bertema “Peran Pesantren Dalam Menyiapkan Generasi Emas 2045” ini tidak hanya menjadi momen dialog antara tokoh nasional dengan santri, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang nilai-nilai ketahanan mental, kesederhanaan hidup, dan etos belajar yang harus dipertahankan oleh generasi muda pesantren di tengah arus modernisasi. Kehadiran beliau disambut hangat oleh para pengasuh pondok, guru, dan ratusan santri yang antusias mengikuti setiap kata-kata inspiratifnya.

‎Dalam sesi interaktif, seorang santri bernama Vian Irwansyah dari jurusan Ekonomi Syariah semester 2 menyampaikan pertanyaan kritis mengenai relevansi budaya santri seperti makan sepiring berempat atau berbagi nasi dengan teman dalam konteks kehidupan kontemporer. 

Ia menegaskan bahwa kesetiaan bukan hanya milik pasangan, melainkan juga bentuk solidaritas sosial terhadap sesama santri yang belum merasakan kemewahan. Tanggapan Dr. Ali Mufthi terhadap pernyataan tersebut sangat apresiatif; ia menyebut Vian sebagai contoh nyata dari “santri yang paham makna keberkahan melalui keterbatasan”. 

Menurutnya, pengalaman hidup sederhana seperti itu adalah laboratorium moral yang tak ternilai harganya, karena membentuk rasa empati, tanggung jawab kolektif, dan kesadaran akan hakikat rezeki yang datang dari Allah SWT.

‎Dr. Ali Mufthi kemudian mengajak para santri untuk merenungkan kembali kondisi masa lalu mereka saat menuntut ilmu di pesantren. Ia mengenang bagaimana dulu makanan sering kali hanya berupa nasi putih dengan sambal kering, telur jarang ditemui, dan air minum kadang diganti dengan infus jika tubuh lemah. 

“Kalau sekarang dikasih air saja sudah dianggap kurang, apalagi kalau nggak ada Wi-Fi,” ujarnya sambil tertawa, namun dengan nada serius di balik candaan itu. 

Ia menekankan bahwa justru dalam keterbatasan itulah letak kekuatan spiritual dan intelektual santri. Keberkahan, ketulusan, dan keikhlasan dalam mencari ilmu adalah modal utama yang membuat seseorang tetap diberi kesempatan oleh Allah untuk mengabdi kepada umat, bahkan setelah lulus dari pesantren.

‎Lebih jauh, Dr. Ali Mufthi menghubungkan filosofi “puasa ilmu” dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Ia menjelaskan bahwa Indonesia Emas bukan sekadar proyeksi ekonomi makro, melainkan sebuah cita-cita bangsa untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu bersaing secara global. 

Kunci utamanya, menurutnya, bukanlah sekadar gelar atau jabatan, melainkan skill yang dikuasai secara mendalam dan diamalkan dengan integritas tinggi. Bagi santri yang mengambil jurusan ekonomi, manajemen, atau bidang lainnya, ilmu harus dipahami bukan sebagai alat untuk meraih kekuasaan, melainkan sebagai keterampilan untuk melayani masyarakat. 

“Ilmu itu sebagai sebuah keterampilan. Kadang-kadang saudara kita punya ilmu manajemen, tapi tidak tahu bagaimana memanajemen diri sendiri,” tegasnya, menyoroti pentingnya internalisasi nilai sebelum eksternalisasi kompetensi.

‎Dr. Ali Mufthi juga mengingatkan bahwa kebahagiaan dunia-akhirat, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bergantung pada tiga hal: ilmu yang bermanfaat, amal shaleh, dan doa orang tua. 

Ia menekankan bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia, dan amal tanpa ikhlas adalah kosong. Oleh karena itu, ia mendorong para santri untuk terus menjaga niat suci dalam menuntut ilmu, karena Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan bagi hamba-Nya yang tulus. 

“Kalau selama 6 tahun kamu hitung nilai nutrisi yang kamu makan, itu kecil. Tapi yang paling dominan adalah pertemuanmu dengan ilmu, dengan guru, dengan teman-teman seperjuangan. Itulah gizi rohani yang membuatmu kuat hingga hari ini,” ujarnya dengan penuh haru, menyentuh hati para santri yang mendengarkan.

‎Menutup sambutannya, Dr. Ali Mufthi berpesan agar para santri tidak pernah melupakan akar identitas mereka sebagai “penjaga tradisi, pembawa perubahan”. Ia menyerukan agar pesantren terus menjadi benteng moral bangsa di tengah gempuran materialisme dan individualisme. 

Dengan semangat “puasa ilmu”, generasi santri diharapkan mampu menjadi agen transformasi sosial yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mulia secara akhlak. 

“Indonesia Emas 2045 bukan impian kosong. Ia akan terwujud jika kalian para santri menjadi manusia unggul yang siap memimpin dengan hati, berpikir dengan akal, dan bertindak dengan tangan yang bersih,” pungkasnya. 

Di bawah langit Jambesari, pesan itu bergema bukan hanya di dinding pondok, tetapi di dalam dada setiap santri yang hadir, membawa harapan baru bagi masa depan bangsa.

‎penulis ; iwak

© Copyright 2026 - MEDIA BHAYANGKARA.COM