Di tengah cengkeraman oligarki dan kapitalisme yang kian menguat, pengayoman yang seharusnya melindungi rakyat justru kerap larut dalam permainan kepentingan. Ironinya, bahkan sebagian pihak yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat pun tak jarang ikut terbawa arus, alih-alih berdiri di garis depan untuk menjaga kepentingan warganya, kata Bang Obri, aktivis lingkungan anak pesisir.
Lebih memilukan, sebagian anak kampung di Pulau Mendanau tergoda ikut dalam praktik jual-beli tanah, bukan menjaga warisan leluhur pulau. Padahal, tanah bukan sekadar aset untuk diperdagangkan. Ia adalah titipan bagi anak cucu agar tetap memiliki kampung halaman, agar pulau ini tidak tenggelam oleh keserakahan, tambah Bang Obri.
Masyarakat masih mengingat bagaimana luka akibat eksploitasi bauksit meninggalkan trauma mendalam di pulau pesisir. Kini, suara peringatan kembali menggema dari Selat Nasik: sejarah kelam tak boleh terulang lagi, tutup Bang Obri.
Social Header
Layanan Link
Media Bhayangkara. Com
Catatan Redaksi
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita, anda dapat juga mengirimkan artikel atau berita sanggahan dan koreksi kepada redaksi kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11 dan 12) undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email Redaksi atau Hubungi No telpon tercantum di bok redaksi
Pembina
Iklan Disini